Bedah Konten: Copywriting vs Content Writing Lewat Contoh GoRide dan Pop Mie
Bedah Iklan Pop Mie: Copywriting vs Content Writing
Belakangan ini, banyak brand menggunakan media sosial untuk mendekatkan diri dengan audiensnya. Salah satu contoh menarik adalah kampanye Pop Mie di Instagram, di mana mereka mengajak audiens untuk ikut challenge dengan hadiah menarik.
Mari kita bedah bersama isi kontennya.
Jika kita perhatikan postingan Pop Mie tersebut, terlihat jelas unsur copywriting yang menonjol, yaitu:
-
Headline Persuasif
“Ngang ngong di jam tanggung kok didiemin? Dikonstenin lah!”
→ Headline ini menggunakan bahasa gaul dan catchy agar langsung menarik perhatian. -
Call to Action (CTA)
Ada instruksi jelas untuk audiens:
“Share momen ‘ngang ngong’, post di IG Reels atau TikTok, tag akun Pop Mie, pakai hashtag #EmangPalingGanjel.”
→ CTA ini mendorong audiens melakukan tindakan spesifik. -
Fokus pada Engagement & Aksi
Bukan sekadar memberi informasi, tapi tujuannya adalah membuat audiens ikut challenge sekaligus semakin dekat dengan brand. -
Daya Tarik Hadiah
Iklan ini memanfaatkan daya tarik hadiah (iPad, HP, E-money) untuk memperkuat persuasi.
Apa Itu Content Writing?
Berbeda dengan copywriting, content writing biasanya tidak secara langsung menjual atau mengajak aksi, melainkan lebih banyak memberikan informasi, edukasi, atau hiburan.
Content Writing pada Campaign Gojek
link : https://www.instagram.com/p/DOyBb8hk1zp
Bayangkan habis nonton festival musik, badan capek dan ribuan orang keluar bersamaan. Bingung cari transportasi? Konten Instagram GoRide hadir dengan solusi: ada GoRide Instant Shelter, driver sudah siap, bahkan ada refreshment biar pulang lebih nyaman.
Ini jelas copywriting, karena tujuannya bukan sekadar cerita, tapi membujuk audiens agar memilih GoRide saat butuh pulang cepat. Bahasa yang dipakai santai, relevan, dan menekankan manfaat langsung.
Kalau dibandingkan, kampanye Pop Mie lebih heboh dan interaktif. Mereka mengajak audiens ikut challenge berhadiah, dengan bahasa yang memicu aksi cepat seperti posting, tag, dan pakai hashtag. Sama-sama copywriting, hanya saja GoRide menekankan solusi praktis, sementara Pop Mie menekankan keseruan dan partisipasi.
Berbeda dengan content writing yang biasanya berbentuk artikel tips atau cerita informatif. Misalnya, artikel “5 Cara Pulang Nyaman Setelah Festival Musik” dengan GoRide disebut sebagai salah satu opsi. Itu lebih edukatif dan membangun kedekatan jangka panjang, bukan persuasi instan.
Kesimpulan
Baik GoRide maupun Pop Mie sama-sama menggunakan copywriting, hanya dengan pendekatan berbeda. GoRide menekankan solusi praktis dan kenyamanan untuk kebutuhan nyata (pulang dari festival), sementara Pop Mie menekankan keseruan dan partisipasi lewat challenge berhadiah. Perbedaannya dengan content writing terletak pada tujuan: content writing fokus memberi informasi atau edukasi jangka panjang, sedangkan copywriting fokus membujuk audiens agar segera bertindak.


Comments
Post a Comment